Saturday, February 20, 2010

SUBHANALLAH

KISAH AIR MASIN DAN AIR TAWAR..... SUNGAI DALAM LAUT


"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Q.S Al Furqan:53)


Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery' pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan.




Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut. Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez .

Ayat itu berbunyi "Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. . "Artinya: "Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus." Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi "Yakhruju minhuma lu'lu`u wal marjaan" ertinya "Keluar dari keduanya mutiara dan marjan." Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.





Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur'an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur'an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20.


Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur'an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam. Allahu Akbar...! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air." Bila seorang bertanya, "Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?" Rasulullah s.a.w. bersabda, "Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran."









Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita , Mexico . Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah "sungai" di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.



Tuesday, February 2, 2010

Honouring our agreements

The Government has now responded to Kelantan’s claim to a portion of the profits derived from petroleum resources extracted offshore by PETRONAS.
Its response violates the letter and the intent of a solemn agreement signed between each State Government and PETRONAS under the Petroleum Development Act.
That agreement is made out in language simple enough for a schoolboy to understand, in both Bahasa Malaysia and English.
The Constitutional rights of the people of Kelantan are denied. However this has implications far beyond Kelantan:
1) It negates an agreement signed between the Kelantan Government and PETRONAS. By implication, it negates identical agreements signed by PETRONAS with every other state and deprives the people of their constitutional rights.
2) The Government’s refusal to recognize a straightforward contractual obligation on PETRONAS’s part puts a question mark over the status of oil payments due to the other oil-producing states. The States’ rights to 5% of profit derived from the extraction of any petroleum resources is based on a quid pro quo according to which the States vested entirely and in perpetuity all their rights and claims to petroleum resources to PETRONAS. In return for this PETRONAS is legally bound to pay the states the 5% directly
3) If PETRONAS no longer recognises its legal obligation to pay the States what is due to them under the Petroleum Development Act, the States, and in particular Sabah and Sarawak, will now wonder if the corresponding Vesting Deed by which they vested all their rights in their petroleum resources to PETRONAS remains in force.
4) The Government’s response substitutes for PETRONAS’s legal obligations under the Petroleum Development Act an arbitrary “compassionate payment” from the Federal Government. This casts serious doubt on the Malaysian Government’s respect for the sanctity of contracts and the rule of law. Let’s not talk about spurring investment to take our economy to a higher level if we fail to understand the importance of abiding by contractual obligations.
I helped craft and negotiate the Petroleum Development Act. As Chairman of Petronas, I signed separate and identical agreements in respect of these payments with each of the Mentris Besar of the States. I must insist that PETRONAS is bound by them and that the Federal government should not interfere in their fulfillment.


Tengku Razaleigh Hamzah
Member of Parliament, Gua Musang


http://razaleigh.com/2009/11/28/oil-payments/